Senin, 12 September 2016

Mereka yang Selalu Berkorban


          Sepak bola adalah permainan sederhana, begitu kira-kira yang dikatakan Johan Cruyff, meski memainkannya dengan sederhana tidaklah mudah. Sepak bola memang sederhana, tim mana yang mencetak gol lebih banyak akan menjadi pemenang, tidak peduli seperti apa tim tersebut mencetak gol. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan utama permainan sepak bola adalah mencetak gol.

Oleh karena itu siapa yang mencetak gol biasanya akan selalu jadi pahlawan. Dan siapa lagi yang lebih sering mencetak gol selain penyerang. Maka yang lebih sering menjadi pahlawan adalah penyerang, maksud saya pemain yang bertugas untuk menyerang baik itu striker ataupun gelandang serang. Lalu bagaimana dengan para pemain bertahan, dalam hal ini para bek serta gelandang bertahan dan juga kiper. Tugas utama mereka adalah mempertahankan gawangnya agar tidak kebobolan. Jadi tugas para defender berlawanan dengan tujuan utama bermain sepak bola. Kenyataan ini sering membuat para defender seakan terlupakan ketika para penyerang berhasil mencetak gol.
Sebetulnya tidak jarang seorang defender menjadi pahlawan buat timnya. Misalnya ketika timnya sudah unggul dari lawan dengan selisih satu gol kemudian tercipta peluang emas bagi lawan untuk mencetak gol di menit akhir pertandingan, namun defender ini berhasil menggagalkannya. Maka ia bisa menjadi pahlawan bagi timnya, dengan catatan peluang lawan benar-benar peluang emas dan peluang itu tidak gagal karena kesalahan lawan sendiri. Lain halnya dengan seorang penyerang, atau bisa disebut attacker. Mereka tidak butuh banyak syarat untuk menjadi pahlawan. Cukup dengan satu gol yang membuat timnya unggul, bagaimanapun cara mencetak golnya, maka ia bisa menjadi pahlawan.
Ada pahlawan, tentu ada pecundang (kambing hitam). Seorang pemain sepak bola juga bisa menjadi pecundang. Malangnya, seorang defender lebih sering jadi kambing hitam daripada seorang attacker. Ketika seorang attacker bermain buruk hampir sepanjang pertandingan, lalu bek lawan membuat sebuah kesalahan sehingga ia bisa mencetak gol dengan mudah di ujung pertandingan, ia yang tadinya hampir menjadi pecundang karena sering membuang peluang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan. Ia dianggap bak ratu adil, juru selamat. Sementara nasib defender malah sebaliknya. Mari kita balikkan sudut pandang dari contoh di atas. Ketika seorang defender bermain baik hampir sepanjang pertandingan dan selalu berhasil menggagalkan peluang lawan, kemudian satu saja kesalahan dibuatnya di ujung pertandingan yang berujung gol buat lawan, ia seketika menjadi seorang pecundang. Semua kerja kerasnya sepanjang pertandingan menguap begitu saja. Yang diingat orang hanyalah kesalahannya. Tidak ada yang peduli berapa kali ia melakukan penyelamatan, berapa kali ia melakukan intersep ataupun tekel bersih.
Berbagai kenyataan di atas membuktikan bahwa tidak mudah menjadi seorang defender, baik itu kiper, bek, ataupun gelandang bertahan. Seorang defender haruslah seorang bermental baja. Seorang defender akan lebih banyak berkorban untuk timnya, meski yang akhirnya menjadi pahlawan adalah sang penyerang. Sang defender haruslah bermain dengan ‘sempurna’, hanya agar tidak menjadi seorang pecundang. Satu kesalahan saja ‘haram’ bagi seorang defender.
Menjadi defender yang baik memang sulit. Sama seperti sulitnya seorang defender menjadi pemain terbaik. Terbukti bahwa pemain terbaik dunia lebih sering, bahkan hampir selalu, diraih oleh para attacker, baik itu striker, gelandang serang, maupun winger. Jika para penyerang bisa berebut gelar top scorer, maka gelar apa yang bisa diperebutkan para defender? Top tackler? Yang ada hanya gelar pemain terbaik, itu pun masih harus bersaing dengan para attacker. Paling-paling gelar kiper terbaik atau golden glove, itupun hanya untuk para kiper dan tidak semua kompetisi memberikannya.
Melihat begitu besarnya beban dan tanggung jawab para defender, tidak sebanding dengan apresiasi yang sepatutnya mereka terima, saya teringat satu perkataan Sir Alex Ferguson. “Penyerangan akan memberikanmu kemenangan, tetapi pertahanan akan memberimu trofi.” Maka untuk mengapresiasi para defender yang selalu berkorban dan berjuang demi timnya, meski akhirnya tidak mendapat apa-apa buat dirinya, izinkan saya mengajukan sebuah pernyataan: Attacker give you win, but defender give you trophy.

Para defender memberi kita pelajaran tentang pengorbanan yang sesungguhnya, pengorbanan tanpa pamrih. Keikhlasan para defender menjaga pertahanan timnya sepatutnya menjadi teladan buat kita semua. Seperti namanya, defender akan selalu istiqomah (bertahan), bertahan dalam perjuangan, pengorbanan.

Akhir kata, saya selaku pengelola blog 41sport.blogspot.com memohon maaf kepada semua pembaca atas segala kekurangan dan kesalahan. Selamat hari raya Idul Adha dan selamat berqurban.

Gambar:https://www.instagram.com/ijai.udin17/

0 komentar:

Posting Komentar