Sepak
bola adalah permainan sederhana, begitu kira-kira yang dikatakan Johan Cruyff,
meski memainkannya dengan sederhana tidaklah mudah. Sepak bola memang
sederhana, tim mana yang mencetak gol lebih banyak akan menjadi pemenang, tidak
peduli seperti apa tim tersebut mencetak gol. Jadi dapat disimpulkan bahwa
tujuan utama permainan sepak bola adalah mencetak gol.
Oleh
karena itu siapa yang mencetak gol biasanya akan selalu jadi pahlawan. Dan
siapa lagi yang lebih sering mencetak gol selain penyerang. Maka yang lebih
sering menjadi pahlawan adalah penyerang, maksud saya pemain yang bertugas
untuk menyerang baik itu striker ataupun gelandang serang. Lalu bagaimana
dengan para pemain bertahan, dalam hal ini para bek serta gelandang bertahan
dan juga kiper. Tugas utama mereka adalah mempertahankan gawangnya agar tidak
kebobolan. Jadi tugas para defender berlawanan dengan tujuan utama bermain
sepak bola. Kenyataan ini sering membuat para defender seakan terlupakan ketika
para penyerang berhasil mencetak gol.
Sebetulnya
tidak jarang seorang defender menjadi pahlawan buat timnya. Misalnya ketika
timnya sudah unggul dari lawan dengan selisih satu gol kemudian tercipta
peluang emas bagi lawan untuk mencetak gol di menit akhir pertandingan, namun
defender ini berhasil menggagalkannya. Maka ia bisa menjadi pahlawan bagi
timnya, dengan catatan peluang lawan benar-benar peluang emas dan peluang itu
tidak gagal karena kesalahan lawan sendiri. Lain halnya dengan seorang
penyerang, atau bisa disebut attacker. Mereka tidak butuh banyak syarat untuk
menjadi pahlawan. Cukup dengan satu gol yang membuat timnya unggul,
bagaimanapun cara mencetak golnya, maka ia bisa menjadi pahlawan.
Ada
pahlawan, tentu ada pecundang (kambing hitam). Seorang pemain sepak bola juga
bisa menjadi pecundang. Malangnya, seorang defender lebih sering jadi kambing
hitam daripada seorang attacker. Ketika seorang attacker bermain buruk hampir
sepanjang pertandingan, lalu bek lawan membuat sebuah kesalahan sehingga ia
bisa mencetak gol dengan mudah di ujung pertandingan, ia yang tadinya hampir
menjadi pecundang karena sering membuang peluang tiba-tiba berubah menjadi
pahlawan. Ia dianggap bak ratu adil, juru selamat. Sementara nasib defender
malah sebaliknya. Mari kita balikkan sudut pandang dari contoh di atas. Ketika
seorang defender bermain baik hampir sepanjang pertandingan dan selalu berhasil
menggagalkan peluang lawan, kemudian satu saja kesalahan dibuatnya di ujung
pertandingan yang berujung gol buat lawan, ia seketika menjadi seorang
pecundang. Semua kerja kerasnya sepanjang pertandingan menguap begitu saja.
Yang diingat orang hanyalah kesalahannya. Tidak ada yang peduli berapa kali ia
melakukan penyelamatan, berapa kali ia melakukan intersep ataupun tekel bersih.
Berbagai
kenyataan di atas membuktikan bahwa tidak mudah menjadi seorang defender, baik
itu kiper, bek, ataupun gelandang bertahan. Seorang defender haruslah seorang
bermental baja. Seorang defender akan lebih banyak berkorban untuk timnya,
meski yang akhirnya menjadi pahlawan adalah sang penyerang. Sang defender
haruslah bermain dengan ‘sempurna’, hanya agar tidak menjadi seorang pecundang.
Satu kesalahan saja ‘haram’ bagi seorang defender.
Menjadi
defender yang baik memang sulit. Sama seperti sulitnya seorang defender menjadi
pemain terbaik. Terbukti bahwa pemain terbaik dunia lebih sering, bahkan hampir
selalu, diraih oleh para attacker, baik itu striker, gelandang serang, maupun
winger. Jika para penyerang bisa berebut gelar top scorer, maka gelar
apa yang bisa diperebutkan para defender? Top tackler? Yang ada hanya
gelar pemain terbaik, itu pun masih harus bersaing dengan para attacker.
Paling-paling gelar kiper terbaik atau golden glove, itupun hanya untuk
para kiper dan tidak semua kompetisi memberikannya.
Melihat
begitu besarnya beban dan tanggung jawab para defender, tidak sebanding dengan
apresiasi yang sepatutnya mereka terima, saya teringat satu perkataan Sir Alex
Ferguson. “Penyerangan akan memberikanmu kemenangan, tetapi pertahanan akan
memberimu trofi.” Maka untuk mengapresiasi para defender yang selalu berkorban
dan berjuang demi timnya, meski akhirnya tidak mendapat apa-apa buat dirinya,
izinkan saya mengajukan sebuah pernyataan: Attacker give you win, but
defender give you trophy.
Para
defender memberi kita pelajaran tentang pengorbanan yang sesungguhnya,
pengorbanan tanpa pamrih. Keikhlasan para defender menjaga pertahanan timnya
sepatutnya menjadi teladan buat kita semua. Seperti namanya, defender akan
selalu istiqomah (bertahan), bertahan dalam perjuangan, pengorbanan.
Akhir
kata, saya selaku pengelola blog 41sport.blogspot.com memohon maaf kepada semua
pembaca atas segala kekurangan dan kesalahan. Selamat hari raya Idul Adha dan
selamat berqurban.
Gambar:https://www.instagram.com/ijai.udin17/







0 komentar:
Posting Komentar