Kamis, 15 September 2016

Tentang Kesamaan Kostum

 
Seperti apa sih arti pakaian buat kalian? Bagi kebanyakan orang zaman sekarang, pakaian tidak hanya sekadar penutup dan pelindung tubuh. Pakaian telah beralih fungsi, dari sekadar menutup aurat, menjadi sebuah lambang kedigdayaan seseorang, lambang kekuasaan dan juga kekayaan. Pakaian kini dianggap mewakili harkat dan martabat pemakainya. Tidak heran seseorang rela mengeluarkan uang relatif banyak hanya untuk membeli pakaian terbaik.

Membahas pakaian membuat saya teringat akan sebuah masalah yang baru-baru ini dialami saya dan teman-teman sekelas saya. Cerita ini bermula dari rencana angkatan saya untuk membuat sebuah foto album, katanya sih untuk kenang-kenangan. Jadi setiap kelas diharuskan memilih tema yang berbeda satu sama lain untuk foto album tersebut. Lalu kelas kami memilih tema ‘friends and cafe’ untuk acara tersebut. Kemudian ditentukanlah kostum berwarna coklat dan putih untuk kami pakai. Singkat cerita, setelah mendekati waktu pengambilan foto, muncullah komplain dari kelas nun jauh di sana. Katanya kostum kami sama dengan kostum mereka. Mereka merasa mereka telah lebih dahulu menentukan kostum tersebut. Sebetulnya tidak ada masalah dari pihak kami ataupun pihak fotografer atas kesamaan kostum ini. Toh tidak ada aturan bahwa kostum tidak boleh sama. Tetapi yang namanya manusia selalu saja ada ego dan gengsi yang tinggi. ‘Mereka’ yang komplain itu katanya takut dianggap meniru konsep kami, mungkin karena pada buku album nanti foto kami akan diletakkan lebih awal dari foto mereka. Masalah ini pun memicu perdebatan, baik antara kami sendiri ataupun antara kami dengan mereka, yang cukup ‘panas’. Beberapa orang dari kelas kami pun akhirnya berdiskusi dengan mereka semua. Dari diskusi itu pun akhirnya dibuat kesepakatan, yang sebenarnya adalah keputusan sepihak karena solusi dari kami selalu saja mereka tolak, bahwa kami harus mengganti warna kostum yang akan kami pakai nanti. Mereka dengan egoisnya memaksa kami. Padahal sebagian di antara kami sudah mempersiapkan baju terbaiknya, yang tentunya tidak murah, untuk acara foto tersebut. Akhirnya kami pun sepakat untuk mengganti warna kostum, namun hanya untuk sebagian saja. Tetapi solusi itu pun masih berpotensi menimbulkan masalah yang sama dengan orang yang berbeda. Sangat disayangkan bahwa hal kecil semacam itu bisa menimbulkan masalah yang mungkin saja berujung pada permusuhan. Semoga saja tidak.
Dari masalah tersebut terlihat bahwa pakaian pun bisa menimbulkan masalah. Hanya karena kesamaan pakaian yang akan dipakai pada suatu acara, dua kelompok bisa saling memusuhi. Masalah tersebut membuat saya teringat akan sejarah kostum sepakbola (jersey).


Dahulu kala (akhir abad ke-18), saat sepakbola mulai populer di Inggris, setiap pemain sepakbola bebas menggunakan pakaian yang mereka mau untuk bertanding. Jadi bisa dibayangkan dalam satu pertandingan sepakbola akan ada beragam pakaian dengan warna dan desain yang berbeda-beda. Baru pada tahun 1891, federasi sepakbola Inggris (FA) memutuskan semua klub wajib memakai pakaian yang seragam. Semua klub diminta mendaftarkan warna kaus mereka. Saat itu jersey sepakbola awalnya berat, karena berbahan kain wol dan berlengan panjang. Ada yang berkerah maupun tidak, ada pula yang memakai pengencang leher dengan menggunakan tali. Celana yang dipakai saat itu pun adalah celana panjang atau istilahnya knickerbocker. Mungkin bisa dibayangkan betapa gerahnya menjadi pemain sepak bola masa itu.
Saat itu, belum ada aturan bahwa warna kostum tim yang bertanding tidak boleh sama. Hal ini tentu akan menyulitkan pemain untuk mengenali mana lawan dan mana kawan. Akhirnya dibuatlah sebuah aturan bahwa tim tuan rumah harus berganti kostum jika warna seragamnya sama dengan kostum tim tamu. Aturan ini dibuat tentunya untuk memudahkan pemain dan juga wasit untuk mengenali pemain, bukannya untuk menjaga gengsi dan mengedepankan ego. Aturan ini kemudian dibalik pada tahun 1921 dan bertahan hingga sekarang.


Sebagai penutup, saya hanya berpesan agar kita semua tidak menjadikan gengsi dan egoisme di atas segalanya. Setiap orang berhak untuk berpakaian sesukanya, sama seperti bebasnya setiap orang untuk berpendapat yang notabene dijamin oleh konstitusi. Namun tentu kebebasan ini bukanlah kebebasan mutlak. Dalam menjalankan kebebasan ini kita tidak boleh sampai melanggar norma dan juga kebebasan serta hak orang lain.

Salam damai...


Beberapa fakta diambil dari panditfootball.com
Gambar diambil dari ultraimg.com

0 komentar:

Posting Komentar