Seperti
apa sih arti pakaian buat kalian? Bagi kebanyakan orang zaman sekarang, pakaian
tidak hanya sekadar penutup dan pelindung tubuh. Pakaian telah beralih fungsi,
dari sekadar menutup aurat, menjadi sebuah lambang kedigdayaan seseorang,
lambang kekuasaan dan juga kekayaan. Pakaian kini dianggap mewakili harkat dan
martabat pemakainya. Tidak heran seseorang rela mengeluarkan uang relatif
banyak hanya untuk membeli pakaian terbaik.
Membahas
pakaian membuat saya teringat akan sebuah masalah yang baru-baru ini dialami
saya dan teman-teman sekelas saya. Cerita ini bermula dari rencana angkatan
saya untuk membuat sebuah foto album, katanya sih untuk kenang-kenangan. Jadi setiap
kelas diharuskan memilih tema yang berbeda satu sama lain untuk foto album
tersebut. Lalu kelas kami memilih tema ‘friends and cafe’ untuk acara tersebut.
Kemudian ditentukanlah kostum berwarna coklat dan putih untuk kami pakai.
Singkat cerita, setelah mendekati waktu pengambilan foto, muncullah komplain
dari kelas nun jauh di sana. Katanya kostum kami sama dengan kostum mereka.
Mereka merasa mereka telah lebih dahulu menentukan kostum tersebut. Sebetulnya
tidak ada masalah dari pihak kami ataupun pihak fotografer atas kesamaan kostum
ini. Toh tidak ada aturan bahwa kostum tidak boleh sama. Tetapi yang namanya
manusia selalu saja ada ego dan gengsi yang tinggi. ‘Mereka’ yang komplain itu
katanya takut dianggap meniru konsep kami, mungkin karena pada buku album nanti
foto kami akan diletakkan lebih awal dari foto mereka. Masalah ini pun memicu
perdebatan, baik antara kami sendiri ataupun antara kami dengan mereka, yang
cukup ‘panas’. Beberapa orang dari kelas kami pun akhirnya berdiskusi dengan
mereka semua. Dari diskusi itu pun akhirnya dibuat kesepakatan, yang sebenarnya
adalah keputusan sepihak karena solusi dari kami selalu saja mereka tolak,
bahwa kami harus mengganti warna kostum yang akan kami pakai nanti. Mereka
dengan egoisnya memaksa kami. Padahal sebagian di antara kami sudah
mempersiapkan baju terbaiknya, yang tentunya tidak murah, untuk acara foto
tersebut. Akhirnya kami pun sepakat untuk mengganti warna kostum, namun hanya
untuk sebagian saja. Tetapi solusi itu pun masih berpotensi menimbulkan masalah
yang sama dengan orang yang berbeda. Sangat disayangkan bahwa hal kecil semacam
itu bisa menimbulkan masalah yang mungkin saja berujung pada permusuhan. Semoga
saja tidak.
Dari
masalah tersebut terlihat bahwa pakaian pun bisa menimbulkan masalah. Hanya
karena kesamaan pakaian yang akan dipakai pada suatu acara, dua kelompok bisa
saling memusuhi. Masalah tersebut membuat saya teringat akan sejarah kostum
sepakbola (jersey).
Baca juga: Jersey Baru Klub-Klub Eropa Musim 2016/2017
Dahulu
kala (akhir abad ke-18), saat sepakbola mulai populer di Inggris, setiap pemain
sepakbola bebas menggunakan pakaian yang mereka mau untuk bertanding. Jadi bisa
dibayangkan dalam satu pertandingan sepakbola akan ada beragam pakaian dengan
warna dan desain yang berbeda-beda. Baru pada tahun 1891, federasi sepakbola
Inggris (FA) memutuskan semua klub wajib memakai pakaian yang seragam. Semua
klub diminta mendaftarkan warna kaus mereka. Saat itu jersey sepakbola awalnya
berat, karena berbahan kain wol dan berlengan panjang. Ada yang berkerah maupun
tidak, ada pula yang memakai pengencang leher dengan menggunakan tali. Celana
yang dipakai saat itu pun adalah celana panjang atau istilahnya knickerbocker.
Mungkin bisa dibayangkan betapa gerahnya menjadi pemain sepak bola masa
itu.
Saat
itu, belum ada aturan bahwa warna kostum tim yang bertanding tidak boleh sama.
Hal ini tentu akan menyulitkan pemain untuk mengenali mana lawan dan mana
kawan. Akhirnya dibuatlah sebuah aturan bahwa tim tuan rumah harus berganti
kostum jika warna seragamnya sama dengan kostum tim tamu. Aturan ini dibuat
tentunya untuk memudahkan pemain dan juga wasit untuk mengenali pemain,
bukannya untuk menjaga gengsi dan mengedepankan ego. Aturan ini kemudian dibalik
pada tahun 1921 dan bertahan hingga sekarang.
Baca juga: Sepak Bola dan Sejarahnya
Sebagai
penutup, saya hanya berpesan agar kita semua tidak menjadikan gengsi dan
egoisme di atas segalanya. Setiap orang berhak untuk berpakaian sesukanya, sama
seperti bebasnya setiap orang untuk berpendapat yang notabene dijamin oleh
konstitusi. Namun tentu kebebasan ini bukanlah kebebasan mutlak. Dalam
menjalankan kebebasan ini kita tidak boleh sampai melanggar norma dan juga
kebebasan serta hak orang lain.
Salam
damai...
Beberapa fakta diambil dari panditfootball.com
Gambar diambil dari ultraimg.com






0 komentar:
Posting Komentar