Hijrah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti berpindah
atau menyingkir untuk sementara waktu
dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu. Kata
‘hijrah’ sendiri merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Arab, هجرة,
yang berarti migrasi atau perpindahan. Hijrah secara luasnya tidak hanya
diartikan sebagai perubahan/perpindahan tempat, melainkan juga perubahan
derajat, sikap, maupun keadaan.
Dalam menjalani kehidupan, kita pastinya akan mengalami hijrah
(perubahan/perpindahan), tentunya dengan beragam tujuan. Ada yang hijrah karena
alasan ekonomi, ada pula yang hijrah karena alasan pendidikan. Dalam sepakbola
pun demikian. Para pelaku sepakbola, baik itu pemain, manajer, pelatih, dan
lainnya, pastinya akan mengalami hijrah.
Seperti dikatakan di awal, hijrah tidak melulu soal berpindah
tempat (klub). Hijrah bagi pesepak bola dapat juga berarti berkembang dari
penghangat bangku cadangan menjadi pemain inti. Pemain akademi yang dipanggil
ke skuat inti timnya pun merupakan hijrah.
Jika kita berbicara soal hijrah pemain sepakbola, tentunya yang
paling sering dibicarakan, utamanya pada saat jeda musim panas ataupun musim
dingin, adalah transfer pemain. Pada saat-saat dimana jendela transfer dibuka,
pers dan fans suatu klub akan ramai-ramai membicarakan tentang transfer pemain.
Bagi pers, tentunya ini menjadi ladang bisnis mereka. Berita-berita yang mereka
buat tentunya akan banyak dicari. Semakin besar nama pemain yang diberitakan
akan hijrah, maka pembaca beritanya pun akan semakin banyak. Hal ini bahkan
cenderung membuat para jurnalis membuat-buat gosip tentang transfer pemain yang
belum pasti kebenarannya.
Tentu ada banyak alasan dan pertimbangan dari seorang pesepak bola
untuk berpindah klub. Ada yang pindah dengan alasan ekonomi, seperti gaji yang
lebih tinggi. Mungkin kita bisa mengambil contoh dari transfer Hulk ke klub
Tiongkok, (cari). Ada juga yang pindah karena ingin meraih juara, contohnya
transfer Miralem Pjanic dari AS Roma ke Juventus. Alasan lain yang sering jadi
pertimbangan pemain untuk hijrah ke klub lain adalah untuk mendapatkan menit
bermain yang lebih banyak, seperti Petr Cech yang pindah ke Arsenal. Dari
sekian banyak alasan, mungkin yang paling menyakitkan adalah karena kehadiran
pemain di klub sudah tidak dibutuhkan lagi. Kita bisa tengok kepindahan Iker
Casillas dari Real Madrid ke FC Porto. Casillas yang dianggap sudah tua oleh
manajemen Madrid dibiarkan pergi. Kapten dan ikon Madrid ini pergi tanpa
mendapat penghargaan yang selayaknya ia dapatkan.
Selain pindah ke klub lain, ada juga
pemain yang promosi ke tim utama. Contohnya Marcus Rashford yang bermain luar
biasa untuk Manchester United sejak laga debutnya. Selain Rashford, banyak
pemain muda Manchester United yang dapat kesempatan bermain untuk tim utama,
seperti Jesse Lingard, Timothy Fosu-Mensah, dan juga Cameron Borthwick-Jackson.
Di Barcelona ada nama Munir El-Haddadi. Bahkan Lionel Messi, Andres Iniesta,
dan Xavi Hernandez adalah para pemain yang naik ke tim utama dari akademi.
Apapun alasan hijrah seorang pemain,
tujuannya tentu untuk menjadi lebih baik. Banyak pemain yang kepindahannya
menuai sukses. Lihat saja Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Luis Suarez di Barcelona,
Lewandowski ke Bayern Muenchen, atau Kevin De Bruyne di Manchester City. Yang
paling fenomenal tentunya adalah Paul Pogba. Hijrahnya dari Manchester United
ke Juventus membuatnya menjadi gelandang yang jauh lebih baik. Bahkan, kini ia
menjadi pemain termahal dunia dengan kembali ke rumahnya, Manchester United.
Selain Pogba, ada nama Mario Balotelli yang hijrah dari Liverpool ke OGC Nice,
dimana ia sukses mencetak 4 gol dari 2 pertandingannya bersama Nice.
Harapan tentu tidak selalu menjadi
kenyataan, adakalanya tujuan hijrah seorang pesepak bola tidak tercapai.
Bukannya sukses, malah ia bisa dicap gagal di klub barunya. Kepindahan Mario
Balotelli ke Liverpool adalah salah satu contohnya. Kepindahan Mario Gotze ke
Bayern Muenchen juga bisa dibilang tidak sukses. Contoh lain adalah kepindahan
Fernando Torres dari Liverpool ke Chelsea. Torres yang begitu tajam bersama
Liverpool menjadi melempem kala berseragam Chelsea.
Kegagalan ataupun kesuksesan memang
ditentukan oleh takdir. Tetapi tentu ada pengaruh usaha dan kerja keras di
balik keduanya. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Jika kita sudah berusaha
dan pada akhirnya gagal juga, mungkin Tuhan ingin kita berusaha lebih keras
lagi.
Hidup, yang selalu berputar, ini
pastinya tidak statis. Ia akan membawa orang yang menjalaninya untuk selalu
berhijrah (berubah). Jika kita, sebagai orang yang menjalani hidup, hanya duduk
bertopang dagu tanpa berbuat yang terbaik, maka besar kemungkinan kita hanya
akan terlindas oleh roda kehidupan. Hidup kita pun akan hijrah ke keadaan yang
lebih buruk. Idealnya, hijrah akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Namun kadang tujuan awal dari hijrah tersebut tidak tercapai. Bahkan pada
kenyataannya mungkin malah tidak lebih baik dari keadaan awal. Tentu bukan
salah hijrah ataupun takdir jika kita gagal. Yang salah hanya jika berbuat
kesalahan dan tidak berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.
Malam ini, 1 Muharram 1438 H, adalah
malam tahun baru bagi umat Islam. Coba kita renungkan bersama apa saja yang
sudah kita perbuat selama setahun terakhir. Berapa banyak kebaikan dan juga
kesalahan yang sudah kita perbuat. Tahun lalu biarlah menjadi sejarah. Kini kita
menghadapi tahun yang baru. Saya teringat petuah guru saya, hari ini harus
lebih baik dari kemarin; esok harus lebih baik dari hari ini; dan tahun ini harus lebih baik daripada tahun kemarin. Maka dari itu, marilah kita
memperbaiki diri bersama. Jadikan sejarah sebagai pelajaran untuk meraih masa
depan.
Selamat
tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1438 H, dan selamat berhijrah menjadi lebih
baik...
Gambar:https://www.instagram.com/ijai.udin17/







0 komentar:
Posting Komentar