Kamis, 20 Oktober 2016

Belajar Bersikap dari Ozil


--Tanpa impian, kita takkan meraih apapun. Tanpa cinta, kita takkan merasakan apapun. Dan tanpa Allah, kita bukan siap-siapa—
Itulah prinsip hidup dari Mesut Ozil. Ya, kita semua tahu bahwa Ozil adalah muslim yang taat. Ia selalu menyempatkan diri beribadah di tengah-tengah kesibukannya sebagai pesepak bola. Ia juga selalu berdoa sebelum memulai pertandingan. Bahkan ia sudah menunaikan umrah sebelum piala Eropa 2016 lalu. Ketaatannya beribadah sudah sepatutnya kita contoh.
Namun Ozil bukanlah manusia tanpa cela.
Ia pernah dikritik karena ternyata ia merajah tubuhnya dengan tatto. Ia juga pernah ketahuan clubing hingga larut malam. Saat libur musim panas lalu pun, ia menggelar pesta kolam renang bersama rekannya di timnas Jerman, Emre Can dan Julian Draxler, di Amerika Serikat. Kalian tahu kan pesta kolam renang? Pesta di pinggir kolam renang dengan wanita berbikini di sekelilingnya.
Perilakunya yang agak terbawa efek kehidupan ala Barat memang tidak layak dijadikan teladan. Tetapi mari sejenak kita lupakan tabiat buruknya, Seperti kata guru saya: ambil yang baik, buang yang buruk.
Sebagai seorang gelandang serang, dengan peran playmaker, tentu tugas utama Ozil adalah mengatur dan membangun serangan. Pastinya hal yang sangat diharapkan dari Ozil adalah umpan serta asisnya. Meskipun gol dari pemain Arsenal dan timnas Jerman ini juga diharapkan. Ozil mengajarkan kita sebuah sikap altruisme, yakni mengutamakan kepentingan orang lain, alih-alih egoisme. Walau berlabel pemain termahal Arsenal, Ozil bukanlah pemain yang mementingkan diri sendiri. Bahkan jika sudah menguasai bola di kotak penalti lawan, ia akan mencari rekannya yang punya peluang lebih bagus untuk mencetak gol. Ia akan selalu mengutamakan kepentingan tim di atas individu. Ia bukanlah tipe gelandang yang gemar melakukan shooting jarak jauh. Ia juga jarang melakukan dribel untuk melewati lawan. Ozil adalah pemain yang tahu akan melakukan apa sebelum melakukannya. Altruisme, pengambilan keputusan, serta visi yang luar biasa baiklah yang membuat Ozil menjadi gelandang dengan asis terbanyak di liga pada musim-musim sebelumnya. Bahkan ia diberi gelar raja asis karenanya.
Soal visi bermain, Ozil mengajak kita untuk berpandangan luas. Ia tahu di mana keberadaan rekan-rekannya di lapangan dan tahu kemana mereka akan berlari. Ia paham betul bagaimana mengambil posisi, dengan ataupun tanpa bola di kakinya. Kecerdasannya dalam bermain itu pun diakui dan dipuji oleh berbagai pelatih. Arsene Wenger dan Jose Mourinho saja, yang terkenal punya hubungan yang kurang baik dan sering berselisih paham, satu suara dalam menilai seorang Mesut Ozil.
Ozil adalah sosok yang pendiam. Tidak pernah terdengar di media pemain keturunan Turki ini melontarkan kritik tajam. Sifat pendiam dan pemalunya ini pun diakui oleh pelatihnya ketika remaja. Ia adalah orang yang berbicara dengan kakinya. Ia berbicara dengan kemampuannya di atas lapangan hijau. Saat bermain pun, ia tidak pernah melakukan provokasi terhadap lawan. Ia juga bukan pemain yang hobi mencari sensasi. Permainannya di lapangan begitu tenang. Bahkan ia dinilai oleh beberapa orang sebagai pemain yang malas bergerak. Alasannya adalah Ozil terlihat sering berjalan, atau bahkan hanya diam saat tidak menguasai bola. Padahal, menurut opini saya, Ozil tidaklah seperti yang terlihat. Ia tidak berlari ketika memang tidak perlu berlari. Ia akan diam ketika memang seharusnya ia diam. Karena sekali lagi, Ozil tahu apa yang ia lakukan.
Soal kejujuran dan fair play tidak perlu ditanya lagi. Ozil adalah pesepak bola yang selalu menjunjung dua hal tersebut. Bagi pemain lulusan akademi Schalke 04 ini, kejujuran adalah harga mati. Tidak pernah sekalipun ia melakukan diving atau berpura-pura jatuh. Ia tidak akan melakukannya dan memang tidak bisa melakukannya. Ia bukanlah Luis Suarez yang kerap melakukan diving, bukan pula Diego Costa yang sering terlibat friksi dengan pemain lawan. Ia adalah Ozil, bukan yang lain. Pemain kelahiran Gelsenkirchen, Jerman, ini pun terbilang jarang melakukan pelanggaran.
Tidak hanya jujur, Ozil pun merupakan pribadi yang sederhana. Kesederhanaan itu tampak dari gaya permainannya yang begitu santai, elegan, namun sangat berbahaya dan mematikan. Sederhana memang bukan barang baru bagi Ozil. Sebagai bagian dari kaum imigran dan minoritas di Jerman, sejak kecil Ozil hidup dengan kesederhanaan, bahkan keterbatasan. Di masa kecil, Ozil hanyalah anak biasa, dari keturunan biasa. Ia belajar sepakbola dari kakaknya. Waktu itu ia sering bermain dengan kakaknya serta orang yang lebih tua darinya. Ia pun sering bermain di lapangan yang tidak begitu baik. Namun dengan semua kekurangan itulah Ozil tumbuh menjadi pemain kelas dunia. Ia mengajari kita bagaimana menyikapi keterbatasan, kemudian mengubahnya menjadi kelebihan.
Mesut Ozil memang bukanlah manusia sempurna. Namun ia tetap patut kita jadikan teladan. Ia telah mengajarkan begitu banyak hal kepada kita. Ia tidak hanya mencontohkan bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai seorang muslim, tetapi juga sebagai manusia. Ia membuat kita malu untuk tidak beribadah, sementara waktu dan kesempatan kita begitu lapangnya untuk beribadah. Ia adalah muslim yang bangga dengan keislamannya, juga dengan identitasnya. Tetapi ia tidak pernah mencontohkan egoisme. Justru ia mengajak kita untuk mengalahkan egoisme demi kepentingan orang. Ia mengajari kita untuk tidak banyak bicara dan lebih banyak bertindak. Ia pun mengajak kita untuk berpandangan luas dan selalu berpikir sebelum bertindak. Kejujuran, fair play, dan kesederhanaan adalah sikap yang ia tunjukkan kepada kita. Terakhir, ia mengajarkan bagaimana kerja keras dapat mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Selamat ulang tahun, Mesut Ozil. Semoga kau dan kami tentunya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.


0 komentar:

Posting Komentar