Minggu, 09 Oktober 2016

Karena Bahagia (Ideal) itu Tidak Pernah Ada

Menurut kalian, apa sih arti bahagia itu?
Saya bertanya kepada beberapa teman tentang arti bahagia menurut mereka. Jawaban mereka beragam. Ada yang bilang kalau bahagia itu abstrak, relatif, bahkan tidak terdefinisi. Yang lain menjawab bahagia adalah saat senang dan tidak ada masalah. Jawaban lain menyatakan bahwa bahagia adalah saat hati dan pikiran sejalan dengan apa yang terjadi. Ada juga yang mengatakan bahwa bahagia itu saat hidup berjalan mulus, meski ada masalah tetapi dapat diselesaikan. Bahkan ada pula yang menjawab bahwa bahagia adalah saat berkumpul bersama orang yang disayangi.
Guru saya pernah berkata, bahwa di dunia ini tidak ada kebahagiaan.
Kebahagiaan hanya ada di surga. Kata beliau, sesenang apa pun seseorang hidup, pasti ada sesuatu yang membuat ia susah, gelisah, marah, sedih, maupun perasaan-perasaan tidak enak lainnya. Dan memang benar kata beliau.
Saya teringat salah satu teman saya yang pernah mengeluh bahwa menjadi siswa SMA itu susah, lebih enak jadi guru katanya, lebih bahagia. Tetapi pada kenyataannya, menjadi guru tidak sesenang dan semudah yang ia pikirkan. Saya pun mengerti betapa repotnya seorang guru karena ibu saya sendiri pun adalah guru. Guru tidak hanya orang yang masuk kelas, memberi tugas, lalu keluar. Mereka juga punya tanggung jawab terhadap atasannya (kepala sekolah) dan juga keluarga. Masalah pun selalu ada menghampiri mereka. Bahkan guru saya yang lain pernah berkata bahwa lebih enak saat menjadi murid. Jadi murid itu, kata beliau, tidak banyak mengalami masalah. Kalau pun ada, hanya masalah-masalah kecil. Saya pikir benar juga. Lagi pula beliau pernah jadi murid juga, jadi pasti tahulah rasanya menjadi murid.

Gambaran di atas sedikit menggambarkan bahwa setiap manusia, siapa pun orangnya, tentu pernah mengalami masalah dalam hidupnya. Dan jika kita merujuk pada arti bahagia adalah saat tidak ada masalah, maka benarlah ucapan guru saya bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia ini.

* * *
Pesepak bola juga manusia, maka tidak ada pesepak bola yang bahagia. Tentu saja opini saya tersebut beralasan. Setiap pesepak bola juga punya berbagai masalah. Mulai dari amatir hingga mega bintang, pastinya punya problem masing-masing.

Pemain amatir, misalnya, tentu punya masalah soal gaji dan pendapatan. Terlebih jika pemain tersebut tidak punya pekerjaan lain. Selain itu, masalah kesehatan dan keselamatan saat bermain juga tidak ada jaminan. Bisa saja seorang pemain amatir mengalami cedera parah, sementara klubnya tidak mampu membiayai pengobatannya. Tentu ini akan menjadi masalah besar.

Lain hal dengan pemain profesional, terutama di klub-klub Eropa. Si pemain pastinya mendapat gaji yang relatif besar, asuransi kesehatan, serta kehidupan yang serba berkecukupan. Lebih-lebih jika ia berstatus sebagai pemain bintang. Cristiano Ronaldo, misalnya, mendapat gaji tiap minggunya sebesar Rp5,5 milyar (sudah dipotong pajak). Belum lagi termasuk pendapatannya dari sponsor dan lain-lain. Bahkan seorang Mark Scwarzer saja, yang cuma kiper cadangan di Leicester City, bisa mendapat gaji sebesar £20.000 (kira-kira Rp321 juta) setiap minggunya..

Di samping mempunyai keuangan yang wah, pemain seperti Ronaldo ataupun Messi berhasil meraih berbagai gelar, baik gelar individu maupun klub. Ronaldo berhasil membawa Portugal juara Piala Eropa dan membawa Real Madrid juara Liga Champions Eropa tahun ini. Ia juga berhasil menggondol gelar pemai terbaik UEFA tahun 2016. Prestasi Messi tidak kalah mentereng. Ia telah lima kali meraih gelar Baloon D’or, yang terbanyak hingga saat ini. Ia juga sukses membawa Barcelona meraih gelar La Liga Spanyol musim 2015/2016. Bahkan pada musin 2014/2015, El Barca dibawanya meraih treble winner. Mereka juga punya banyak penggemar dari seluruh dunia. Akun Twitter Ronaldo (@cristiano) diikuti oleh lebih dari 40 juta orang. Dan jika diminta menyebutkan dua nama pemain sepak bola, mungkin kalian yang tidak mengikuti perkembangan sepak bola akan menyebut Ronaldo dan Messi. Tidak hanya dari sisi material, dari segi mental pun mereka sangat senang dan menikmati hidupnya sebagai pemain sepak bola.

Saya, Anda, atau siapa pun, tanpa memikirkan apa sebenarnya arti bahagia, tentu setuju jika mereka dikatakan sangat bahagia hidupnya. Anda boleh saja berpikiran seperti itu. Tetapi hidup ini tidak pernah mulus. Selalu saja ada gesekan dan hambatan dalam jalan hidup ini. Mungkin jalan tanpa gesekan hanya ada di soal-soal fisika.

Kenyataannya memang demikian. Seorang Cristiano Ronaldo--dengan semua kemampuan, gol, dribel, aksi, hingga berbagai gelar prestisius yang sudah dimilikinya—tetap saja manusia biasa. Sebagai pemain bintang, tentu beban besar dan ekspektasi tinggi harus dipikulnya. Dan ketika semua itu tidak mampu ia wujudkan dengan penampilannya di lapangan, maka berbagai komentar dan kritik akan mengarah padanya. Inilah yang menjadi masalah baginya. Belum lagi wataknya yang, kata orang, egois dan arogan. Soal Real Madrid yang belum juga memenangi La Liga sejak 2013 pun juga jadi masalah bagi seorang CR7.

Lain lagi dengan masalah yang dialami Lionel Messi. Meski ia telah 5 kali menjadi pemain terbaik dunia dan berbagai gelar telah diberikannya bagi Barcelona, ia tetap tak mampu memberikan trofi bergengsi bagi tanah kelahirannya, Argentina. Tiga kali berlaga di final turnamen besar dalam tiga tahun terakhir, tiga kali pula ia gagal membawa piala ke Argentina. Lengkap sudah, dapat piring cantik. Sebuah problem yang sangat besar bagi pemain sebesar Lionel Messi. Karena itu pulalah ia sempat ingin pensiun dari timnas, meski pada akhirnya tidak jadi. Di balik bakat besarnya, Messi pun pernah mengalami masalah besar pada masa kecilnya. Ia kekurangan hormon pertumbuhan. Hal itu memang bukan masalah lagi sekarang. Dengan tubuh kecilnya itu, ia dengan lincahnya meliuk-liuk melewati pemain lawan. Itu pun memunculkan masalah baru. Pemain yang merasa tidak mungkin merebut bola dari kaki Messi akan lebih memilih menekelnya. Akibatnya, Messi menjadi rentan cedera. Ditambah sikapnya yang selalu ingin bermain dan tidak mau diganti, apalagi dicadangkan. Lionel pun pernah tersangkut masalah penggelapan pajak bersama ayahnya.

* * *
Hidup memang tidak pernah mulus. Selalu saja muncul berbagai masalah, mulai dari kerikil hingga batu besar bisa menjadi sandungan bagi siapa saja. Jika kita mengartikan bahagia sebagai keadaan tanpa masalah, maka di dunia ini tidak akan pernah ada kebahagiaan.

Saya lebih sepakat jika bahagia diartikan sebagai keadaan di mana kesenangan yang kita peroleh mampu menghapus masalah yang kita alami. Saat di mana tidak ada masalah dinamakan kebahagiaan ideal, dan kebahagiaan ideal hanya ada di surga. Sebagaimana sebuah trafo, maka kebahagiaan ideal tidak akan pernah terwujud di dunia. Yang ada hanya mendekati ideal.

Manusia hidup di dunia memang bukan untuk berbahagia, tetapi untuk mengusahakan agar Tuhan memberikan kebahagiaan di akhirat nanti, berupa surganya.


Semoga bahagia...



Data diolah dari berbagai sumber
Gambar: youtube.com

0 komentar:

Posting Komentar