Pancasila, yang istilahnya telah lahir sejak 1 Juni 1945, merupakan ideologi yang dianut bangsa Indonesia. Ia merupakan dasar dalam penyelenggaraan negara. Ia adalah pandangan hidup masyarakat. Setidaknya, itulah yang diharapkan oleh para pendiri bangsa ini.
Pancasila adalah warisan tidak ternilai dari para pemikir terdahulu. Ia tidak lahir dari pikiran dan angan-angan satu orang. Ia adalah nilai-nilai yang sudah lama tertanam dalam masyarakat, yang kemudian dirumuskan menjadi sebuah kesatuan bernama Pancasila.Nilai-nilai Pancasila sangat sempurna untuk sebuah ideologi. Tidak seperti liberalisme yang akan membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin saja. Tidak juga seperti sosialisme yang menyamaratakan setiap individu tanpa adanya kebebasan. Pancasila adalah pertemuan antara kedua kutub ideologi yang saling bertolak belakang tersebut. Ia memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk berkarya, namun tetap dalam batasan tertentu. Batasan yang dimaksud adalah tidak sampai melanggar kebebasan individu lain. Ia menjadi model yang kini banyak diterapkan di seluruh dunia, di mana kini tidak ada negara yang menganut liberalisme atau sosialisme absolut.
Sayangnya, Pancasila seakan begitu utopis. Lima sila yang ‘tidak terlalu banyak’ itu seakan begitu sulit untuk diterapkan. Memang, Pancasila sebagai ideologi memerlukan penjelasan dan penjabaran untuk bisa diterapkan. Tidak mudah juga mendoktrin lebih dari 120 juta rakyat yang saling berbeda untuk menerima satu ideologi. Tetapi, setidaknya para pemimpinlah yang menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kepemimpinannya.
Pancasila (lima dasar) yang oleh Bung Karno dikerucutkan menjadi ekasila (satu dasar), yaitu gotong royong, menghendaki adanya sikap altruisme. Altruisme yang dimaksud adalah mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Seandainya setiap ‘pelayan masyarakat’ menyadari hal ini, tentu tak akan ada lagi korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Pelanggaran terhadap nilai Pancasila menjadi masalah serius bangsa ini. Di mana nilai ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ saat para pemimpin mengkhianati kepercayaan rakyatnya. Di mana pula nilai ‘Keadilan sosial’ saat rakyat kelaparan dan pemimpinnya asyik jalan-jalan ke luar negeri. Kenyataan memang menyakitkan. Pancasila seakan hanya angan-angan belaka.
Tidak hanya pengurus pemerintahan, para pengurus sepakbola pun tidak jauh berbeda. Tentu kita masih ingat dengan Nurdin Khalid, yang walaupun di penjara masih bisa memimpin PSSI. Bagaimana sepak bola Indonesia bisa maju, kalau pemimpinnya saja sedang dihukum, karena masalah korupsi lagi. Lalu yang terbaru, ada nama La Nyala Mattaliti yang menjadi tersangka kasus serupa. Belum lagi melihat kasus dualisme kepemimpinan di PSSI yang sempat terjadi. Hal itu tak akan terjadi jika mereka-mereka yang ditugasi mengurus sepakbola mau menekan egonya untuk memikirkan kemajuan sepak bola Indonesia. Bukannya malah asyik bertengkar dan merasa paling benar. Sekarang, tongkat kepemimpinan PSSI berada di tangan sang jenderal Kopassus, Edy Rahmayadi. Dengan latar belakang militer, Edy tentu paham betul mengenai sikap patriotisme dan nasionalisme, di mana kepentingan pribadi dan kelompok harus dikorbankan demi kepentingan nasional. Edy tentu paham betul bagaimana menerapkan ideologi negara, Pancasila, dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam mengurus sepakbola.
Kembali ke bahasan mengenai Pancasila. Sebagai masyarakat Indonesia tentu kita harus paham dengan ideologi kita sendiri. Dan sebagai pecinta sepakbola, saya mencoba memahami Pancasila untuk kemajuan sepakbola Indonesia.
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini mensyaratkan negara meyakini adanya Tuhan YME, Yang Menguasai seluruh alam. Maka negara ini sangat menentang adanya atheisme. Tapi keyakinan terhadap Tuhan YME harus diiringi dengan ketaatan kepada perintahn-Nya. Tuhan menyuruh kita untuk jujur, berbuat adil, dan amanah. Dengan menerapkan tiga hal itu ‘saja’ dulu dalam mengelola sepak bola Indonesia, tentu sepak bola Indonesia akan lebih maju. Tidak akan ada korupsi atau suap-menyuap. Tidak ada lagi pengaturan skor atau sepakbola gajah.
Sila ke-2: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Memanusiakan manusia, itulah intinya. Andai setiap elemen masyarakat memahami hal ini, tentu tak akan ada tawuran antarsuporter, tak ada perkelahian antarpemain, tak ada caci-maki maupun rasisme. Apa pantas manusia diperlakukan sperti binatang, dipukuli dan dihina seenaknya. Bahkan binatang pun tak boleh diperlakukan demikian, apalagi manusia. Para tokoh ‘elite’ juga harus mampu melindungi harkat manusia dari perbuatan yang tak pantas. Mereka haru mampu menjadi pengayom dan pelindung bagi masyarakat, khususnya pecinta sepakbola.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia.
Indonesia terdiri atas beragam suku, ras, agama, dan golongan. Sehingga banyak sekali hal-hal yang memicu perpecahan di masyarakat. Namun, sepakbola hadir sebagai pemersatu. Tengoklah saat timnas Indonesia bertanding, seluruh elemen masyarkat bersatu padu mendnkung timnas. Tetapi sepakbola ternyata juga bisa memicu perpecahan, lihat saja Jakmania dan Bobotoh yang sering bertikai. Masyarakat harus sadar, pentingnya menjaga persatuan. Apa jadinya bangsa ini andai dulu paa pendahulu kita tidak bersatu? Apa sekarang ada yang namanya Indonesia? Ayo, mari kita jaga persatuan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita sendiri, dan juga untuk kemajuan sepakbola Indonesia. Lihatlah apa yang sama, toh meskipun kita berbeda, kita tetap sama: sama-sama berbeda.
Sila ke-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Setiap keputusan yang dibuat harus melalui musyawarah mufakat, apalagi kalau menyangkut banyak pihak. PSSI sebagai otoritas sepak bola tertinggi di Indonesia tidak boleh asal mengeluarkan kebijakan. Harus dimusyawarahkan dulu, baik dengan pemerintah, operator, klub, maupun pemain, tidak terkecuali suporter. Jika ini dilakukan tentu setiap kebijakan dapat diteima dengan baik oleh semua pihak terkait. Inilah yang aling utama, demokrasi sepak bola. Sepak bola yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Sila ke-5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah yang dicita-citakan Pancasila, keadilan sosial. Jika sila-sila di atas dapat dilaksanakan, maka akan tercapailah keadilan sosial itu. Dalam konteks sepak bola, maka sepak bola dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika pemain sepak bola dapat menikmati permainannya, maka kemampuan terbaiknya akan keluar, hingga prestasi pun akan ikut mengiringi.
Jadi, mari jadikan Pancasila seperti apa yang diinginkan oleh para pendiri bangsa kita, menjadi ideologi yang tidak hanya sekedar diucapkan, namun juga diamalkan dalam kehidupan kita, termasuk dalam sepakbola. Selamat hari Lahir Pancasila. Berjuanglah terus bangsaku, berjuanglah dengan jiwa Pancasila. Merdeka.
Mungkin pembahasan yang saya paparkan masih kurang. Karena Pancasila mencakup seluruh nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, tentu tidak dapat dipaparkan hanya dalam satu tulisan. Jika terdapat kesalahan mohon dimaafkan. Jika ada komentar atau perbaikan, silakan komentar di bawah.







0 komentar:
Posting Komentar